Selasa, 12 April 2011

PETANI : Pahlawan kehidupan yang terabaikan




Banyak diantara kita yang mengabaikan, bahkan tidak pernah berfikir, betapa besar jasa para petani dalam menyediakan kebutuhan esensial hidup kita. Namun di negeri sakura (Jepang) yang telah maju perkembangan teknologinyapun, anak-anak sejak dini dididik untuk menghargai petani. Anak-anak sekolah taman kanak-kanak (TK) setiap akan makan diajarkan supaya memulai dengan mengucapkan ”terimakasihku pada petani yang telah menyediakan makanan ini”. Ini mendidik untuk menghargai jerih payahnya petani dalam menghasilkan sesuap nasi yang perlu perjuangan dengan tetesan keringat dalam waktu yang panjang.  Saat ini baru penghargaan terhadap guru telah ditanamkan pada setiap anak didik, baik dalam bentuk nyanyian ataupun ungkapan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Penghargaan kepada para petani kita dalam penyediaan bahan makanan bahkan berbagai aepek kebutuhan hidup kita nyaris tak ada sama sekali, bahkan penghargaan finansial terhadap petani atau nilai tukar petani rendah dan itupun masih diombangambingkan keadaan dan harga.
Nampaknya sektor pertanian pada akhir-akhir ini belum mendapatkan perhatian sepenuhnya. Seharusnya sektor pertanian merupakan titik sentral pembangunan. Negeri kita tercinta ini hendaknya jangan melupakan jati dirinya sebagai negara agraris yang unggul sejak nenek moyang kita. Pada zaman nenek moyang kita, kejayaan Nusantara memiliki keunggulan pertaniannya. Bahkan bangsa lain (Portugis dan Belanda) datang ke Indonesia karena hasil pertaniannya (rempah-rempah dan perkebunan) yang melimpah. Hal ini disebabkan karena kondisi alam yang subur, yang terletak di daerah khatulistiwa yang kaya akan sumber daya hayatinya.
Sebagai negara agraris, sektor pertanian mampu mempekerjakan angkatan kerja terbanyak dibandingkan dengan sektor lain. Pertanian juga menyediakan sebagian besar kebutuhan pangan seluruh rakyat. Pertanian telah berhasil menopang perekonomian dan ketahanan pangan nasional. Pandangan konvensional tentang pertanian menganggap pertanian semata-mata hanya sebagai penghasil pangan, sandang, dan papan yang mudah diukur dan dapat dipasarkan. Namun dimensi yang lebih luas tentang pertanian mempunyai multifungsi yang belum banyak dikenal, atau masih diabaikan berbagai kalangan, sehingga penghargaan terhadap pelakunya (petani) juga nyaris terabaikan.
Peran pertanian menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia antara lain sebagai penjaga ketahanan pangan yang meliputi kecukupan pangan, distribusi pangan, dan keamanan pangan; Sebagai penyedia jasa lingkungan, seperti mengurangi banjir, pengendali erosi, pemeliharaan pasokan air tanah, penambat karbon dan gas rumah kaca, penyegar dan penyejuk udara, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan pendaur ulang limbah organik; Sebagai penyedia lapangan kerja bagi sekitar  44% angkatan kerja Indonesia; Sebagai penyangga kestabilan ekonomi dalam keadaan krisis dan penanggulangan kemiskinan; dan untuk mempertahankan nilai sosial budaya dan daya tarik pedesaan. Pertanian kita telah teruji pada tahun 1997 pada saat terjadi resesi, nampak bahwa sektor pertanian yang paling stabil dibandingkan sektor industri yang diunggul-unggulkan saat itu. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat dan pemerintah terhadap multi-fungsi pertanian sangatlah diperlukan agar pertanian mendapat perlakuan dan penghargaan yang lebih layak. Semuannya tadi tidak terlepas dari jasa petani.
Penghargaan terhadap Petani
Walaupun pertanian hingga saat ini peranannya begitu penting dalam menopang berbagai aspek kehidupan, namun sektor pertanian masih belum mampu memberikan pendapatan yang layak bagi para pelakunya. Dewasa ini petani kita masih merupakan bagian lapisan masyarakat termiskin dan sering termarjinalisasi. Kemiskinan yang terjadi di pedesaan mencerminkan kemiskinan pada rumah tangga pertanian. Pada tahun 2006 saja tercatat jumlah penduduk miskin di pedesaan 24,76 juta orang yang sebagian besar mata pencariannya di sektor pertanian.
Peran pertanian utama adalah berkaitan dengan penyediaan pangan nasional. Masalah pangan karena berkait dengan pemenuhan hajat orang banyak, maka pemerintah berkepentingan untuk mengaturnya, karena masalah pangan sebagai penyumbang inflasi terbesar. Namun intervensi pemerintah nampaknya belum sepenuhnya memihak pada petani. Misalnya berkaiatan dengan intervensi pemerintah untuk mengatur harga gabah/beras, dengan kebijakannya menentukan harga atas dan bawah, dan melakukan operasi pasar jika terjadi lonjakan harga. Saat harga naik terkadang petani tidak bisa merasakan keuntungan yang mewadahi.  Sebagai contoh melonjaknya harga beras awal tahun lalu, apakah petani merasakan dampaknya pada peningkatan pendapatannya. Petani tidak menikmati sama sekali, karena kenaikan terjadi saat paceklik, dimana petani tidak memiliki cadangan beras, bahkan petani ikut terimbas oleh kenaikan harga tersebut, karena saat paceklik petani juga sebagai konsumennya. Tentunya yang merasakan semuanya tadi adalah para spekulan.
Masalah beras sering ditarik sebagai komoditas politik yang terkadang sangat merugikan petani. Misalnya pertengahan tahun 2006 kemarin, disaat  diperkirakan cadangan beras di daerah tertentu tidak mencukupi, pemerintah berkeinginnan untuk import beras. Begitu rencana itu muncul,  para politikus kita saling berargumentasi tentang import beras. Dampaknya disaat berita prokontra itu menyebar, saat itu pula harga gabah menurun tajam, sementara saat itu musim panen, sehingga sangat merugikan petani, walaupun import belum dilakukan. Sehingga merosotnya harga bukan karena import berasnya (karena masih rencana), namun akibat dari ramainya para politikus saling berargumentasi dan berspekulasi, yang berpengaruh pada harga gabah. Sebenarnya import beras tidak perlu ditanggapi secara negatif, jika analisis dilakukan secara akurat baik waktunya dan memang tidak mencukupi. Hanya import beras harus langsung di salurkan ke daerah rawan pangan seperti papua dan aceh misalnya, dan penyaluran tidak dilewatkan pulau atau daerah produksi (terutama saat panen raya) dan waktunya tidak disaat panen raya, sehingga tidak mengganggu harga daerah tersebut.
Sebagian besar petani kita petani gurem yang mempunyai lahan garapan sempit 0,1 hingga 0,5 ha sehingga pendapatan usaha taninya sangat rendah. Dalam usaha taninya, petani sering terhantui oleh harga saat panen raya anjlok secara dratis, belum lagi petani dibebani dengan harga sarana produksi pupuk dan obat-obatan yang tinggi,  sehingga pendapatan yang diterima petani rendah. Subsidi sarana produksi (pupuk dan obat-obatan) yang diberikan pemerintah selama ini terkadang tidak sampai atau tidak dirasakan oleh petani, namun dirasakan oleh sekelompok kecil pedagang dan penyalur saprodi saja. Misalnya disaat musim tanam, dengan langkanya pupuk banyak petani yang harus membeli di atas harga eceran yang telah ditentukan. Inilah tekanan ekonomi yang dirasakan petani kita. Belum lagi kekhawatiran petani karena tekanan alam, yang berupa iklim atau cuaca yang tidak menguntungkan, seperti gagal tanam/panen karena banjir atau kekeringan dan juga serangan hama dan penyakit.
Nampaknya saat ini keberuntungan belum memihak pada petani, dan penghargaan terhadap petani belumlah sepadan dan bahkan masih terabaikan. Disaat petani mengalami kesulitan karena adanya melonjaknya harga saprodi, kelangkaan saprodi, serangan hama dan penyakit, kekeringan atau anjloknya harga saat panen kepada siapa diamengeluh. Tatkala petani menjerit masih adakah yang mendengarkan. Walaupun HKTI telah berbuat, nampaknya belum optimal ikut andil dalam mensejahterakan petani. Tentunya pemerintah sangatlah berkepentingan untuk mengangkat petani dalam posisi yang lebih layak. Peran pemerintah berkaitan dengan penentuan kebijakan, haruslah memihak kepada petani. Perlu dipikirkan penyaluran subsidi yang tepat, misalnya diberikan pada hasil produksinya, yang berupa jaminan harga yang layak ataupun dalam bentuk subsidi langsung pada hasil produksi, sehingga petani benar-benar merasakan hasil jerih payahnya. Bentuk subsidi semacam ini akan meningkatkan semangat kerja dan memacu petani agar lebih produktif, mereka tidak lagi dihantui oleh bayangan anjloknya harga saat panen.
Ungkapan seorang petani yang pernah saya dengar mengatakan ”Petani itu mimpi akan kesejahteraan tapi miskin dalam kanyataan”. Ungkapan tersebut tersirat adanya kekesalan akan kondisi petani yang selalu dikecewakan. Memangnya pemerintah disatu sisi ingin mensejahterakan petani dengan harga yang memuaskan petani, namun disisi lain tidak memberatkan masyarakat luas sebagai konsumennya. Penentuan patokan harga gabah oleh pemerintah yang meningkat saat ini nampaknya belumlah dapat menjamin mendongkrak pendapatan petani, mengingat petani lebih banyak berhubungan langsung dengan para penebas di lapangan.
Sebenarnya petani dalam perjuangan hidupnya tanpa pamrih apapun, dengan tetesan keringatnya, semata-mata hanya untuk memenuhi penyediaan pangan sesamanya. Walaupun ditempa oleh alam, tekanan ekonomi, sosial dan budaya mereka dengan iklas tetap menjalankan perannya. Nampaknya perlu menanamkan dan menumbuhkan kesadaran bagi kita semuanya, bahwa dari petanilah kita makan, dengan jerih payah merekalah kita dapat menikmati hidup ini, Oleh karenanya, kita perlu menghargai perjuangan atau jerih payahnya. Tidak berlebihan jika penanaman pengertian pada anak didik sejak dini tentang betapa besar jasa petani dalam menopang berbagai aspek kehidupan (multi fungsi pertanian), bahkan pertanian perlu dimasukan dalam mata ajar muatan lokal SD dan SMP, khususnya di Jawa, untuk memberikan pengertian usaha dibidang pertanian adalah usaha yang mulia, mengingat Jawa daerah penyangga pangan nasional.  Kalau guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, maka petani selama ini sebagai pahlawan yang terabaikan. Yang seharusnya petani sebagai pahlawan kehidupan, mengingat petani menopang berbagai aspek kehidupan. Tidak berarti ingin mengagungkan petani, namun hanya sekedar menempatkan petani pada porsi yang sebenarnya. Jika anak anak kita nanti berpaling untuk tidak menjadi petani maka tetunya merupakan ancaman bagi keberlanjutan usaha pertanian di Indonesia dan ancaman terhadap ketahanan pangan negeri kita tercinta ini. Penanaman rasa cinta pada usaha pertanian pada anak didik kita perlu disertai dengan usaha pemerintah untuk membangun citra pertanian kedepan. Tulisan ini agar menjadi renungan kita semua.



Oleh : Prof.Dr.Ir.H. Suntoro Wongso Atmojo. MS.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar